Langkahku adalah harapan, pantang putus asa, karena asa darah Illahi. Hatiku adalah pelabuhan rasa, dimana berada disana berkata. Jiwaku adalah penyangga waktu agar hidmat saat lambat dan cermat disaat cepat. Menunggu adalah istirahat sejenak agar kembali kuat menapaki perjalanan sang waktu, hingga ruh-ku di panggil Illahi

politika

By Umar Wira Aditama (Uwa) Tokoh : Dinar Mangkusubrata, Sesilia Zidni Fritzi (DISEL)| Sarjono Adiwiyono | Ustad Badrudin (SABAR)| Akew Tanuwijaya (Pengusaha)| Erni Ananda| Danil Mangkusubrata| Kinar Faoziyah Adiwiyono| Partai pendukung: DISEL : Partai Nusa, Partai Mandiri, dan Partai Sejahtera. SABAR : Partai Adil, Partai Bangsa, Partai Kiai. *** Hubungan cinta Kinar dan Danil dimulai sejak mereka dikampus. Hubungan cinta dua remaja ini terhalang oleh keangkuhan kedua orang mereka masing-masing. Akhirnya keduanya kabur…ke suatu tempat di kaki Gunung Ageng. Kedua orang tua mereka mengkhawatirkan nasib anak-anaknya. Lalu mereka berjanji akan menikahkannya, dengan syarat, cinta benar adanya. Dengan kebesaran cinta, politikpun bisa dikalahkan. Dengan cinta itupula antara pasangan seteru ini akhirnya menjadi akur lagi. Tujuan penulisan ini, adalah untuk menggambarkan hiruk pikuk dunia politik tanah air yang rakus dan naïf. Dan di satu sisi efek politik terhadap kehidupan sosial, dan cinta. Namun bagaimanapun dahsyatnya rintangan yang ada, cinta tetap cinta.

Senin, 24 November 2008

aku harus mundur 2


Awal November 2008, aku kembali ke Jakarta untuk menghadiri seminar PJI. Di antara peserta yang datang kala itu, terdapat orang yang sudah aku kenal pada seminar pertama, sisanya orang baru. Nah, mereka yang sudah mendapatkan telepon dari pusat untuk mendirikan PJI di daerah-kebetulan- kumpul denganku. Kami menceritakan kondisi di daearah masing-masing. Ada yang mengaku cukup mudah, sebagiannya mengaku kesulitan meyakinkan rekan-rekannya di daerah. Maklum, organisasi relatif baru.
Aku sendiri rada PeDe, mengingat sudah banyak rekan di Jabar, khususnya di Cimahi yang tertarik dengan PJI. Padahal sebagian rekan sudah menjadi pengurus dan anggota di organisasi wartawan lain.
Pada seminar ke dua, yang materinya lebih kepada pembuatan berita ekonomi tersebut, pengenalan PJI kepada kami lebih dalam lagi. Sehingga, keyakinanku semakin dalam pula. Dan karenanya, tekadku kian bulat untuk segera membentuk kepengurusan di Jabar.
Eh, lupa, pada seminar kali kedua itu, peserta dari Jabar ada empat orang, masing-masing aku, Dicky dari Galamedia, Preni dari ANTARA dan Iwa dari Sindo Jabar. Otomatis transformasi PJI lebih gampang lagi, karena nanti kedua rekanku langsung mendengarnya dari bos Ismet. Atas penjelasan Ismet itulah, kami sepakat saat itu juga untuk membentuk kepengurusan PJI di Jabar.
Berselang dua minggu (kalau tidak salah) kami kembali ke Jakarta. Yang datang Aku, Dicky, Hendrianto Attan RADAR Bandung, dan Deny PJTV. Saat itu Ismet berjanji untuk segera memberikan mandat kepada kami untuk pembentukan PJI di Jabar.
Dua minggu berikutnya surat mandat itu diterima. Kamipun segera membentuk kepengurusan awal. Setelah 'berbicara' di antara kami, maka disepakati Aku (radar bandung) sebagai ketua, Dicky (Galamedia) sebagai wakil, Hazmir (Pikiran Rakyat) sebagai bendahara, dan Iwa (Sindo Jabar) sebagai sekretaris jendral. Rekan lainnya menempati posisi sebagai ketua bidang (kompartemen).
Sekalipun belum lengkap benar, pada 22 November 2007 kepengurusan ini dilantik, di Jakarta. Pelantikan ini hanya aku sendiri yang hadir, karena dibarengkan dengan pelantikan pengurus daerah lain. Sepulang dari Jakarta, kami mulailah merekrut anggota. Awalnya hanya wartawan Cimahi, berikutnya wartawan Soreang, dan seterusnya semua wartawan di semua wilayah Bandung Raya. (*)

Tidak ada komentar:

mendukung:

go green indonesia! ANTI free sex & foto porno Indonesia